Tags

, , ,

PicsArt_06-14-08.25.30

No Need to Talk

GOT7 Mark x TWICE Mina

476 words | G | Fluff/Romance

by shoshana


Hari-hari bersalju telah tiba sejak kira-kira seminggu yang lalu. Dahan pepohonan yang gundul tertutupi salju tebal, sejumlah jalanan nyaris tidak bisa dilewati dan matahari pun tidak terlihat batang hidungnya. Mina hanya berdiri saja dari tadi, menyaksikan petugas pengeruk salju menyingkirkan tumpukan benda putih itu dari depan rumahnya. Suara sekop yang bergantian mengeruk tanah bersalju mulai terdengar seperti musik bagi Mina. Sudah satu jam lebih ia menunggu untuk bisa masuk ke rumah, hidung dan jari-jarinya mulai terasa membeku. Udara semakin dingin dan salju-salju itu seolah tak ada habisnya. Ketika ponselnya berdering, Mina tidak bisa menyembunyikan betapa senangnya ia mendengar sesuatu yang lain selain suara pengeruk salju sepagian. Dengan penuh semangat ia menjawab panggilan itu, matanya berbinar-binar setelah mendengar suara si pemanggil.

“Mark oppa? Tumben sekali, biasanya selalu menghubungiku lewat chat,” kata Mina, jelas terkejut mendengar suara pacarnya itu. Mark bukan tipe orang yang suka banyak bicara, apa lagi saat bertatap muka langsung atau via telepon. Mina pun begitu, keduanya sering kali menjadi sangat canggung ketika bertemu. Hal itu tidak berubah bahkan setelah hubungan mereka berjalan satu tahun.

“Hmm cuma ingin mendengar suara Myoui Mina,”

Mina tersenyum kecil, sejumlah kata dari Mark Tuan cukup untuk membuat pipinya merona dan melupakan bahwa ia sedang kedinginan.

“Aku tidak bisa banyak bicara, mulutku membeku aku sedang kedinginan tahu! Sejak pagi aku tidak bisa masuk ke rumah karena tumpukan salju tebal.”

“Itu barusan kau bicara panjang lebar. Bodoh, makanya jangan berdiri saja, bergeraklah sedikit! Apa aku harus datang ke sana dan ikut mengeruk salju?”

“Tidak, oppa tidak usah datang ke sini. Kalau kita bertemu oppa tidak akan bicara padaku, sibuk sendiri.”

Lalu ia mendengar lelaki itu tertawa kecil. Mark tertawa bagaikan seorang anak kecil yang baru melihat orang tuanya melakukan suatu hal yang konyol. Mina bahkan bisa membayangkan senyuman Mark yang kekanakan. Laki-laki itu sedang mentertawakan keluhannya.

“Hmm begitu, ya? Jadi kau tidak mau bertemu denganku lagi?” Tanya Mark, dengan nada kekecewaan yang jelas dibuat-buat.

“Bukan begitu! Maksudku… aku ingin kita bicara lebih banyak. Aku ingin diperhatikan juga, rasanya seperti oppa tidak peduli padaku. Huh aku bodoh sekali, ya?”

Mina menundukan kepalanya sambil cemberut. Setelah mengatakan kalimat-kalimat barusan, ia tidak mendengar jawaban lagi dari Mark. Mereka masih tersambung, tapi Mark tidak mengatakan apa-apa. Mina mulai khawatir, apakah perkataannya benar-benar membuat Mark kecewa atau sedih?
Ia baru saja akan memanggil lelaki itu ketika sebuah mantel coklat tebal tiba-tiba membungkus tubuhnya yang mulai menggigil. Sepasang lengan mendekapnya erat-erat dari belakang, membanjirinya dengan kehangatan. Mina bisa merasakan wajahnya memanas, ia tahu pasti sekarang pipinya sudah semerah kepiting rebus.

Oppa…” ucap Mina pelan. Ia terus menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan pipinya yang merona.

Sekali lagi Mark tertawa kecil. Kali ini terdengar sangat jelas, jauh lebih jelas dari sebelumnya. Ia merunduk dan memberikan kecupan manis pada pipi Mina.

“Lihat kan? aku tidak perlu bicara untuk menunjukkan perhatianku.”

~♡~

Advertisements